Senin, 03 Oktober 2011

Batik Indonesia

Batik
Batik adalah salah satu cara
pembuatan bahan pakaian. Selain
itu batik bisa mengacu pada dua
hal. Yang pertama adalah teknik
pewarnaan kain dengan
menggunakan malam untuk
mencegah pewarnaan sebagian
dari kain. Dalam literatur
internasional, teknik ini dikenal
sebagai wax-resist dyeing.
Pengertian kedua adalah kain
atau busana yang dibuat dengan
teknik tersebut, termasuk
penggunaan motif-motif tertentu
yang memiliki kekhasan. Batik
Indonesia, sebagai keseluruhan
teknik, teknologi, serta
pengembangan motif dan budaya
yang terkait, oleh UNESCO telah
ditetapkan sebagai Warisan
Kemanusiaan untuk Budaya Lisan
dan Nonbendawi (Masterpieces
of the Oral and Intangible
Heritage of Humanity) sejak 2
Oktober, 2009.[1]
Etimologi
Kata "batik" berasal dari
gabungan dua kata bahasa Jawa:
"amba", yang bermakna "menulis"
dan "titik" yang bermakna "titik".
[ rujukan?]
Sejarah teknik batik
Tekstil batik dari Niya (Cekungan
Tarim), Tiongkok
Detail ukiran kain yang dikenakan
Prajnaparamita, arca yang berasal
dari Jawa Timur abad ke-13.
Ukiran pola kembang-kembang
yang rumit ini mirip dengan pola
batik tradisional Jawa kini.
Seni pewarnaan kain dengan
teknik pencegahan pewarnaan
menggunakan malam adalah
salah satu bentuk seni kuno.
Penemuan di Mesir menunjukkan
bahwa teknik ini telah dikenal
semenjak abad ke-4 SM, dengan
diketemukannya kain
pembungkus mumi yang juga
dilapisi malam untuk membentuk
pola. Di Asia, teknik serupa batik
juga diterapkan di Tiongkok
semasa Dinasti T'ang (618-907)
serta di India dan Jepang semasa
Periode Nara (645-794). Di Afrika,
teknik seperti batik dikenal oleh
Suku Yoruba di Nigeria, serta
Suku Soninke dan Wolof di
Senegal.[2]. Di Indonesia, batik
dipercaya sudah ada semenjak
zaman Majapahit, dan menjadi
sangat populer akhir abad XVIII
atau awal abad XIX. Batik yang
dihasilkan ialah semuanya batik
tulis sampai awal abad XX dan
batik cap baru dikenal setelah
Perang Dunia I atau sekitar tahun
1920-an.[3]
Walaupun kata "batik" berasal
dari bahasa Jawa, kehadiran batik
di Jawa sendiri tidaklah tercatat.
G.P. Rouffaer berpendapat bahwa
tehnik batik ini kemungkinan
diperkenalkan dari India atau
Srilangka pada abad ke-6 atau
ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes
(arkeolog Belanda) dan F.A.
Sutjipto (arkeolog Indonesia)
percaya bahwa tradisi batik
adalah asli dari daerah seperti
Toraja, Flores, Halmahera, dan
Papua. Perlu dicatat bahwa
wilayah tersebut bukanlah area
yang dipengaruhi oleh Hinduisme
tetapi diketahui memiliki tradisi
kuna membuat batik.[4]
G.P. Rouffaer juga melaporkan
bahwa pola gringsing sudah
dikenal sejak abad ke-12 di Kediri,
Jawa Timur. Dia menyimpulkan
bahwa pola seperti ini hanya bisa
dibentuk dengan menggunakan
alat canting, sehingga ia
berpendapat bahwa canting
ditemukan di Jawa pada masa
sekitar itu.[4] Detil ukiran kain
yang menyerupai pola batik
dikenakan oleh Prajnaparamita,
arca dewi kebijaksanaan buddhis
dari Jawa Timur abad ke-13. Detil
pakaian menampilkan pola sulur
tumbuhan dan kembang-
kembang rumit yang mirip
dengan pola batik tradisional
Jawa yang dapat ditemukan kini.
Hal ini menunjukkan bahwa
membuat pola batik yang rumit
yang hanya dapat dibuat dengan
canting telah dikenal di Jawa
sejak abad ke-13 atau bahkan
lebih awal.
Legenda dalam literatur Melayu
abad ke-17, Sulalatus Salatin
menceritakan Laksamana Hang
Nadim yang diperintahkan oleh
Sultan Mahmud untuk berlayar ke
India agar mendapatkan 140
lembar kain serasah dengan pola
40 jenis bunga pada setiap
lembarnya. Karena tidak mampu
memenuhi perintah itu, dia
membuat sendiri kain-kain itu.
Namun sayangnya kapalnya
karam dalam perjalanan pulang
dan hanya mampu membawa
empat lembar sehingga membuat
sang Sultan kecewa.[5] Oleh
beberapa penafsir,who?serasah
itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik
ini pertama kali diceritakan dalam
buku History of Java (London,
1817) tulisan Sir Thomas
Stamford Raffles. Ia pernah
menjadi Gubernur Inggris di Jawa
semasa Napoleon menduduki
Belanda. Pada 1873 seorang
saudagar Belanda Van
Rijekevorsel memberikan
selembar batik yang diperolehnya
saat berkunjung ke Indonesia ke
Museum Etnik di Rotterdam dan
pada awal abad ke-19 itulah batik
mulai mencapai masa
keemasannya. Sewaktu
dipamerkan di Exposition
Universelle di Paris pada tahun
1900, batik Indonesia memukau
publik dan seniman.[2]
Semenjak industrialisasi dan
globalisasi, yang
memperkenalkan teknik
otomatisasi, batik jenis baru
muncul, dikenal sebagai batik cap
dan batik cetak, sementara batik
tradisional yang diproduksi
dengan teknik tulisan tangan
menggunakan canting dan
malam disebut batik tulis. Pada
saat yang sama imigran dari
Indonesia ke Persekutuan Malaya
juga membawa batik bersama
mereka.
Budaya batik
Pahlawan wanita R.A. Kartini dan
suaminya memakai rok batik.
Batik motif parang yang dipakai
Kartini adalah pola untuk para
bangsawan
Batik adalah kerajinan yang
memiliki nilai seni tinggi dan telah
menjadi bagian dari budaya
Indonesia (khususnya Jawa) sejak
lama. Perempuan-perempuan
Jawa di masa lampau menjadikan
keterampilan mereka dalam
membatik sebagai mata
pencaharian, sehingga di masa
lalu pekerjaan membatik adalah
pekerjaan eksklusif perempuan
sampai ditemukannya "Batik Cap"
yang memungkinkan masuknya
laki-laki ke dalam bidang ini. Ada
beberapa pengecualian bagi
fenomena ini, yaitu batik pesisir
yang memiliki garis maskulin
seperti yang bisa dilihat pada
corak "Mega Mendung", dimana
di beberapa daerah pesisir
pekerjaan membatik adalah lazim
bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya
merupakan tradisi yang turun
temurun, sehingga kadang kala
suatu motif dapat dikenali berasal
dari batik keluarga tertentu.
Beberapa motif batik dapat
menunjukkan status seseorang.
Bahkan sampai saat ini, beberapa
motif batik tadisional hanya
dipakai oleh keluarga keraton
Yogyakarta dan Surakarta.
Batik Cirebon bermotif mahluk
laut
Batik merupakan warisan nenek
moyang Indonesia ( Jawa ) yang
sampai saat ini masih ada. Batik
juga pertama kali diperkenalkan
kepada dunia oleh Presiden
Soeharto, yang pada waktu itu
memakai batik pada Konferensi
PBB.
Batik dipakai untuk membungkus
seluruh tubuh oleh penari Tari
Bedhoyo Ketawang di keraton
jawa.
Corak batik
Ragam corak dan warna Batik
dipengaruhi oleh berbagai
pengaruh asing. Awalnya, batik
memiliki ragam corak dan warna
yang terbatas, dan beberapa
corak hanya boleh dipakai oleh
kalangan tertentu. Namun batik
pesisir menyerap berbagai
pengaruh luar, seperti para
pedagang asing dan juga pada
akhirnya, para penjajah. Warna-
warna cerah seperti merah
dipopulerkan oleh Tionghoa,
yang juga memopulerkan corak
phoenix. Bangsa penjajah Eropa
juga mengambil minat kepada
batik, dan hasilnya adalah corak
bebungaan yang sebelumnya
tidak dikenal (seperti bunga tulip)
dan juga benda-benda yang
dibawa oleh penjajah (gedung
atau kereta kuda), termasuk juga
warna-warna kesukaan mereka
seperti warna biru. Batik
tradisonal tetap mempertahankan
coraknya, dan masih dipakai
dalam upacara-upacara adat,
karena biasanya masing-masing
corak memiliki perlambangan
masing-masing.
Cara pembuatan
Semula batik dibuat di atas bahan
dengan warna putih yang terbuat
dari kapas yang dinamakan kain
mori. Dewasa ini batik juga
dibuat di atas bahan lain seperti
sutera, poliester, rayon dan bahan
sintetis lainnya. Motif batik
dibentuk dengan cairan lilin
dengan menggunakan alat yang
dinamakan canting untuk motif
halus, atau kuas untuk motif
berukuran besar, sehingga cairan
lilin meresap ke dalam serat kain.
Kain yang telah dilukis dengan
lilin kemudian dicelup dengan
warna yang diinginkan, biasanya
dimulai dari warna-warna muda.
Pencelupan kemudian dilakukan
untuk motif lain dengan warna
lebih tua atau gelap. Setelah
beberapa kali proses pewarnaan,
kain yang telah dibatik dicelupkan
ke dalam bahan kimia untuk
melarutkan lilin. Dangeng_club
Jenis batik
Pembuatan batik cap
Menurut teknik
Batik tulis adalah kain yang
dihias dengan teksture dan
corak batik menggunakan
tangan. Pembuatan batik jenis
ini memakan waktu kurang
lebih 2-3 bulan.
Batik cap adalah kain yang
dihias dengan teksture dan
corak batik yang dibentuk
dengan cap ( biasanya terbuat
dari tembaga). Proses
pembuatan batik jenis ini
membutuhkan waktu kurang
lebih 2-3 hari.
Batik lukis adalah proses
pembuatan batik dengan cara
langsung melukis pada kain
putih.
Menurut asal pembuatan
Batik Jawa
batik Jawa adalah sebuah
warisan kesenian budaya
orang Indonesia, khususnya
daerah Jawa yang dikuasai
orang Jawa dari turun
temurun. Batik Jawa
mempunyai motif-motif yang
berbeda-beda. Perbedaan
motif ini biasa terjadi
dikarnakan motif-motif itu
mempunyai makna, maksudnya
bukan hanya sebuah gambar
akan tetapi mengandung
makna yang mereka dapat dari
leluhur mereka, yaitu penganut
agama animisme, dinamisme
atau Hindu dan Buddha. Batik
jawa banyak berkembang di
daerah Solo atau yang biasa
disebut dengan batik Solo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

bagi anda yang ingin koment di persilakan
BEBASKAN PENDAPATMU
new reales
Info Op Group
Op Radio

Feed Burnered

share item

Share

Print

HAM

Protected by Copyscape Online Copyright Protection Software